<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Mr_Five Go Blog &#187; Waisak 2553BE/2009</title>
	<atom:link href="http://goblog.wenz.web.id/category/buddhism/waisak-2553be2009/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://goblog.wenz.web.id</link>
	<description>nothing... just go blog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 Nov 2011 14:27:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2</generator>
		<item>
		<title>Makna Sebuah Kemenangan</title>
		<link>http://goblog.wenz.web.id/2009/05/makna-sebuah-kemenangan/</link>
		<comments>http://goblog.wenz.web.id/2009/05/makna-sebuah-kemenangan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 May 2009 13:21:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mr_Five WenZ</dc:creator>
				<category><![CDATA[Waisak 2553BE/2009]]></category>
		<category><![CDATA[Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[eling]]></category>
		<category><![CDATA[mindfullness]]></category>
		<category><![CDATA[transformasi]]></category>
		<category><![CDATA[waisak]]></category>
		<category><![CDATA[waisak 2553]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goblog.wenz.web.id/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nyana Suryanadi Mahathera Kompas, Jumat, 8 Mei 2009 (hal. 6) Kosmik saat purnama pada bulan Waisak, dunia mengenang kembali tiga peristiwa perjalanan hidup Buddha Gautama yang penuh nilai kemanusiaan dan keteladanan. Ketiga peristiwa itu adalah kelahiran, pencapaian penerangan sempurna, dan parinirwana (meninggal). Kata &#8220;Buddha&#8221; sendiri mengandung pengertian bangun, bangkit, atau sadar. Buddha bukan nama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;">Oleh: <strong>Nyana Suryanadi Mahathera</strong><br />
Kompas, Jumat, 8 Mei 2009 (hal. 6)</p>
<p><strong>K</strong>osmik saat purnama pada bulan Waisak, dunia mengenang kembali tiga peristiwa perjalanan hidup Buddha Gautama yang penuh nilai kemanusiaan dan keteladanan.</p>
<p>Ketiga peristiwa itu adalah kelahiran, pencapaian penerangan sempurna, dan <em>parinirwana</em> (meninggal). Kata &#8220;Buddha&#8221; sendiri mengandung pengertian bangun, bangkit, atau sadar. Buddha bukan nama diri, tetapi kesempurnaan tertinggi bagi orang yang mencapai pencerahan.</p>
<p>Bila direnungkan dengan tenang dan keterjagaan nurani, momentum Waisak akan menuntun kita menuju cakrawala hidup yang lebih bermartabat. Makna historis Waisak adalah sebuah dialektika kehidupan yang telah mencapai titik transformasi &#8220;paripurna&#8221;, sebuah kemenangan nurani atas segala ambiguitas kehidupan.</p>
<p>Buddha tidak lagi diombang-ambingkan suasana hidup yang selalu bersinggungan dengan berbagai masalah (<em>dukkha</em>) (D.II.22), baik fisik, mental, maupun sosial. Berbagai beban persoalan hidup yang fundamental dipandang dengan cara elegan, realistis, sehingga tampak jelas, masalah hanya tarik-menarik antara persepsi ego, keinginan ceroboh, dan konstruksi mental yang tidak terampil.</p>
<p>Kapasitas untuk bangkit (<em>Buddha</em>) dalam mengatasi segala persoalan secara tenang, terkontrol dalam bingkai keterjagaan (<em>mindfullness/eling</em>), merupakan cara hidup menuju kemenangan dan pembebasan yang selalu relevan untuk diterapkan dalam aneka kehidupan (M.I.37)</p>
<p><strong><span id="more-189"></span>Kemenangan Sejati</strong></p>
<p>Kemenangan sejati terletak di hati, bukan dalam pakaian, makanan, dan materi. Makna kemenangan harus lebih diarahkan pada upaya meraih kualitas diri yang lebih baik dan mempertahankannya. Kualitas untuk berdamai dalam diri dan harmoni dengan semua. Kemenangan Siddharta Gautama melawan <em>Mara</em> (nafsu keinginan) merupakan bentuk kemenangan sejati, menjadi refleksi diri bagi kita untuk bangkit dan berjuang dengan semangat dan selalu sadar (<em>eling</em>) tiap saat.</p>
<p>Eksistensi Buddha dengan berbagai kapasitas dan keluhurannya bukan hanya monopoli Siddharta, tetapi bersifat universal, dapat diwujudkan oleh siapa pun yang peduli dan sadar dalam menjalankan kehidupan. Kemampuan untuk sadar akan memperlancar intensitas perjumpaan mental dengan sisi-sisi paling alami yang kita miliki berupa benih kasih, kepedulian, dan kebijaksanaan atau benih dan sifat kebuddhaan (<em>Buddhata</em>).</p>
<p>Sifat kebuddhaan inilah yang sering kita abaikan dan jarang &#8220;dikunjungi&#8221; atau tidak diizinkan muncul mewarnai ritme hidup. Kita cenderung biasa terbelenggu dalam ritme ketergesa-gesaan, terkungkung dalam pandangan maya, hidup tanpa akar kesadaran, berlari dari momen kekinian, bahkan dalam masa istirahat sekalipun.</p>
<p>Kemenangan sejati sebagai buah proses pemupukan kesadaran pada hakikatnya bukan kemenangan yang bernuansa heroik destruktif, bukan kemenangan yang dilakukan dengan menekan berbagai karakter negatif yang kita miliki. Kemenangan atau pembebasan dilakukan dengan sepenuh hati, berdamai dengan segala karakter negatif yang kita miliki, berdamai dengan diri sendiri.</p>
<p>Pada dasarnya kita seperti keping mata uang dengan dua sisi, kebaikan dan keburukan, dan menghilangkan satu sisi berarti menghilangkan yang lain. Memperlakukan sisi baik dengan cara yang salah akan melahirkan sisi buruk. Sementara tidak menghendaki sisi buruk menekan sisi atau &#8220;membenci&#8221; sisi buruk hanya akan menambah masalah. Cara kesadaranm (<em>eling</em>) bekerja adalah memperlakukan dua sisi dalam basis yang sama, memahaminya secara alami, serta menyinarinya secara apa adanya dan perlahan akan terbebas dari dualisme baik-buruk sebagai puncak kedamaian dan kemenangan spiritual.</p>
<p><strong>Demokrasi dan Transformasi</strong></p>
<p>Tidak berlebihan jika dalam konteks ke-Indonesia-an, spirit perdamaian juga merupakan bagian dari solusi berbagai masalah kebangsaan dalam rangka membawa bangsa ke arah yang lebih baik. Sebagai bangsa yang terangkai dari mozaik kemajemukan, di dalamnya terhimpun beribu-ribu pulau, bahasa, budaya, adat kebiasaan, pikiran, dan keinginan, di mana selain merupakan kekayaan keragaman, juga dapat menimbulkan perpecahan.</p>
<p>Apalagi pelaksanaan Pemilu 2009 berpotensi memunculkan perbedaan yang kian tajam, seperti perbedaan paham dan pemikiran, berpuncak pada perbedaan status kekalahan dan kemenangan. Kekalahan maupun kemenangan yang tidak dipahami secara dewasa dalam pigura perdamaian hanya akan menodai komitmen persatuan dan kesatuan yang telah dirajut bersama (Dh.201). Pada titik inilah kedamaian dalam diri, keampuhan untuk hidup harmonis dengan sesama, memunculkan peran yang amat vital. Hanya dengan rasa damai, sebuah masyarakat dimungkinkan mampu bermusyawarah bersama secara tulus dalam mengatasi masalah, rukun berhimpun, hidup harmonis dalam naungan konstitusi sebagai syarat kemajuan dan kesejahteraan bangsa (D.II.75-75).</p>
<p>Buddha menjelaskan tentang syarat-syarat kesejahteraan suatu bangsa. Pertama, sering berkumpul untuk mengadakan musyawarah. Kedua, dalam permusyawaratannya selalu dianjurkan perdamaian. Ketiga, menetapkan adanya hukum-hukum yang baru dan mengubah tradisi lama atau meneruskan pelaksanaan aneka peraturan lama sesuai Dharma. Keempat, selalu menunjukkan rasa hormat dan bakti serta menghargai orang yang lebih tua. Kelima, melarang keras penculikan atau penahanan wanita-wanita dari keluarga baik-baik. Keenam, menghormati dan menghargai tempat-tempat suci mereka. Tujuh, melindungi dan menjaga orang-orang suci dengan sepatutnya dan bagi mereka yang belum memiliki pekerjaan diusahakan agar memiliki pekerjaan serta hidup aman dan damai.</p>
<p>Waisak tahun ini bertepatan dengan pesta demokrasi. Dalam masyarakat yang bebas dan demokratis, yang diperlukan adalah kedamaian, bukan perselisihan, pertengkaran, dan permusuhan. Demokrasi mempertahankan perdamaian dan persatuan, bukan peperangan dan perpecahan. Keragaman dan kebhinnekaan merupakan realitas, kebersamaan dalam perbedaan merupakan kebutuhan. Proses pencapaian kebuddhaan merupakan transformasi personal yang sadar dalam membangun kemenangan, damai dalam diri, dan harmoni dengan semua.</p>
<p>Selamat hari Waisak 2553 BE. Semoga semua makhluk hidup bahagia.
</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Nyana Suryanadi Mahathera</strong><br />
<em>Ketua Umum Sangha Agung Indonesia<br />
Pembina Majelis Buddhayana Indonesia</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goblog.wenz.web.id/2009/05/makna-sebuah-kemenangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berkah Tri Suci Waisak</title>
		<link>http://goblog.wenz.web.id/2009/05/berkah-tri-suci-waisak/</link>
		<comments>http://goblog.wenz.web.id/2009/05/berkah-tri-suci-waisak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 May 2009 08:11:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mr_Five WenZ</dc:creator>
				<category><![CDATA[Waisak 2553BE/2009]]></category>
		<category><![CDATA[Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[waisak]]></category>
		<category><![CDATA[waisak 2553]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goblog.wenz.web.id/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Prajnavira Mahasthavira Kompas, Jumat, 8 Mei 2009 (hal. 6) Bukan guncangan bumi yang mengharukan sebuah kelahiran. Namun ketaatan dan perjuangan yang mengabadikan sebuah penerangan. Bukan tetesan air mata yang berlinang deras mengantarkan kepergian. Namun pelayanan dan kesetiaan yang menjalarkan kasih dan kebijakan. Berkelanalah ke seluruh penjuru bumi. Tanpa rintangan terbebaslah hati nurani. Renungkanlah berkah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;">Oleh: <strong>Prajnavira Mahasthavira</strong><br />
Kompas, Jumat, 8 Mei 2009 (hal. 6)</p>
<blockquote><p><em>Bukan guncangan bumi yang mengharukan sebuah kelahiran. Namun ketaatan dan perjuangan yang mengabadikan sebuah penerangan. Bukan tetesan air mata yang berlinang deras mengantarkan kepergian. Namun pelayanan dan kesetiaan yang menjalarkan kasih dan kebijakan. Berkelanalah ke seluruh penjuru bumi. Tanpa rintangan terbebaslah hati nurani. Renungkanlah berkah dari 4 pilar bakti yang hakiki. Niscaya tenteram hidup jasmani dan rohani.</em></p></blockquote>
<p><strong>P</strong>eringatan Tri Suci Waisak di Tanah Air tahun ini merupakan sumber inspirasi sekaligus renungan apa yang telah terjadi dan yang akan diperbuat untuk kehidupan lebih baik pada masa datang.</p>
<p>Renungan Waisak tahun ini bertumpu pada empat pilar bakti yang nmerupakan salah satu ajaran mendasar umat Buddha. Napak tilas tiga peristiwa suci Waisak memberi ideologi kuat dalam pelaksanaan empat pilar bakti: kepada orangtua, Tri Ratna, tanah air, dan semua makhluk.</p>
<p>Bakti kepada orangtua adalah yang pertama di antara ratusan kebajikan. Napak tilas Waisak pertama mengingat kelahiran agung Pangeran Siddharta, pewaris takhta, mengetuk hati kita untuk berterima kasih kepada orangtua yang kita sayangi. Dewi Maha Maya, ibunda Pangeran Siddharta, wafat setelah tujuh hari kelahiran Beliau dan terlahir di Surga Taryastrimsa.</p>
<p><span id="more-184"></span>Setelah mencapai penerangan sempurna menjadi Buddha, Beliau pergi ke Surga Trayastrimsa, memberi hadiah tertinggi, dharma sempurna menuju pembebasan mutlak, bagi Dewi Maha Maya.</p>
<p>Bagai rintik hujan yang menyejukkan hati tiap insan, purnama Waisak kedua tentang penerangan sempurna mengingatkan kita akan bakti kepada guru besar, sakyamuni Buddha. Beliau yang telah membabarkan ajaran yang tidak lekang oleh waktu dan membentuk persaudaraan suci dengan kasih sayang sehingga kini kita semua dapat mengecap indahnya dharma. Melalui peristiwa suci kedua, pinta hati diketuk untuk membuah pilihan hidup yang membawa manfaat bagi orang banyak, seperti dilakukan Buddha dengan bekerja keras membabarkan kebenaran selama beberapa dasawarsa.</p>
<p>Perbuatan nyata yang bertumpu pada pelaksanaan paramita bukan saja membawa manfaat bagi diri sendiri, tetapi juga pada kebahagiaan orang banyak, merupakan semangat penerangan sempurna Waisak yang terwujud dalam semangat Bodhisattva.</p>
<p>Menjelang wafatnya, dengan tubuh yang lemah, Hyang Buddha masih menunjukkan bakti negara dan semua makhluk. Beliau mencegah peperangan yang akan memusnahkan negara Kapilavastu, tanah air Beliau.</p>
<p><strong>Saling Menyayangi</strong><br />
Pengabdian lebih besar untuk kebahagiaan semua makhluk juga dilaksanakan dengan sempurna oleh Hyang Buddha. Tanpa henti, Beliau berpesan kepada para siswanya agar sungguh-sungguh berusaha dan berkelana untuk kebahagiaan orang banyak. Inilah yang dikatakan bakti kepada semua makhluk.</p>
<p>Mengingat semua makhluk hidup adalah calon Buddha, insan yang memiliki benih ke-Buddha-an, hendaknya memperlakukan orang lain dengan penuh hormat, saling menyayangi, dan mendukung satu sama lain. Konsep yang amat mendasar ini perlu terus dikumandangkan sehingga kita semua disadarkan akan persamaan dan bukan mencari perbedaan. Dengan persamaan, rasa hormat, dan menjauhi saling menyakiti akan menimbulkan perdamaian, mencegah peperangan, dan memajukan kualitas kehidupan secara global.</p>
<p>Semoga ketiga peristiwa suci Waisak yang dilandasi empat pilar bakti dapat menyentuh hati kita yang hidup dalam masyarakat majemuk. Bakti kepada orangtua, Tri Ratna, bangsa dan negara, serta semua makhluk dapat melimpahkan berkah yang mulia untuk kemajuan kehidupan spiritual yang menjadi fondasi kuat bagi individu yang akan berkarya membawa perubahan yang baik bagi negeri Indonesia.<br />
Sarva Satta Bhavantu Sukhitatta, semoga semua makhluk hidup dalam damai dan berbahagia. Salam Dalam Dharma.
</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Prajnavira Mahasthavira</strong><br />
<em>Sekretaris Jendral World Buddhist Sangha Council<br />
Pimpinan Vihara Mahavira Graha Pusat</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goblog.wenz.web.id/2009/05/berkah-tri-suci-waisak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

